Rabu, 27 Mei 2009

RESUME BUKU PENDIDIKAN

PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKESULITAN BELAJAR
Pengarang : Dr. Mulyono Abdurrahman
Resume oleh : Aisyah Ramadhani
Agustus, 2003
Diterbitkan & bekerjasama antara PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN dengan PENERBIT PT. RINEK CIPTA
JAKARTA
Dicetak oleh : PT Asdi Mahasatya Jakarta

Banyak definisi tentang kesulitan belajar tetapi secara umum dapat dikemukakan empat kriteria:
(1) Kemungkinan adanya disfungsi otak
(2) Kesulitan dalam tugas-tugas akdemik
(3) Prestasi belajar yang rendah jauh dibawah kapasitas integlinasi yang dimilki
(4) Tidak memasukkan sebab-sebab lain seperti karena tunagrahita, ganguan emosional, hambatan sensoris, ketidaktepatan pembelajaran, atau karena kemiskinan budaya.

Prevalensi kesulitan belajar secara umum mencakup rentangan dari 1% hingga 30%, sedangkan secara konservatif adalah dari 1% hingga 3%.
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diskalifikasikan kedalam dua kelompok:
(1) Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan
(2) Kesulitan belajar akademik.

Kesulitan belajar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain faktor keturunan, kerusakan pada fungsi otak, biokimia, deprivasi lingkungan, atau kesalahan nutrisi.

Teori tentang kesulitan belajar merupakan sekumpulan bangunan pengertian atau konsep, definisi, dan dalil yang saling terkait, yang memungkinkan terbentuknya suatu gambaran yang sistematik tentang fenomena kesulitan belajar dengan menjelaskan hubungan antarberbagai variabel, dengan tujuan menjelaskan, meramalkan , dan mengendaliakan fenomena tersebut.

Anak berkesuliatn belajar memerlukan program pelayanan remedial hendaknya dilaksanakan oleh guru khusus yang hendaknya dilaksanakan oleh guru khusus yang memiliki keahlian dalam bidang pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Sebelum memberikan pengajaran remedial, guru perlu lebih dahulu menegakkan diagnosis, yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Ada tujuh langkah yang hendaknya diikuti oleh guru dalam menegakkan diagnosis kesulitan belajar, yaitu:
(1) Identifikasi
(2) Menetukan prioritas anak yang perlu diberi pelayanan pengajaran remedial
(3) Menentukan potensi
(4) Menentukan taraf keamapuan dalam bidang yang perlu diremidasi
(5) Menentukan gejala kesulitan
(6) Menganalisis faktor-faktor yang terkait
(7) Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial.

Ada sembilan prinsip diagnosis kesulitan belajar yang perlu diperhatikan, yaitu (1) terarah pada perumusan metode perbaikan, (2) efisien, (3) penggunaan catatan kumulatif, (4) memperhatikan berbagai informasi yang terkait, (5) valid dan reliabel, (6) penggunaan tes baku (kalau mungkin), (7) penggunaan prosedur informal, (8) kuantitatif, dan (9) berkesinambungan.

Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar merupakan bagian dari ilmu pendidikan luar biasa atau ortopedagogik. Pendidikan luar biasa bukan merupakan pendidikan yang secara keseluruhan berbeda dari pendidikan pada umumnya. Oleh karena itu, pendidikan luar biasa dapat diselenggarakan terintegrasi dengan pendidsikan pada umumnya. Pemisahan anak luar biasa dari anak-anak lain pada umumnya hendaknya hanya untuk keperluan pembelajaran (instruction), bukan untuk keperluan pendidikan (education).

Guru untuk anak berkesulitan belajar, baik psikologis maupun fisiologis. Ada dua kelompok teori psikologis tentang proses belajar , yaitu kelompok teori behavioristik dan kelompok teori kognitif. Kelompok teori belajar behavioristik memandang manusia sebagai makhluk pasif yang dipengaruhi oleh stimulasi dari lingkungan; sedangkan kelompok teori kognitif memandang manusia sebagai makhluk aktif yang bebas membuat pilihan. Teori neurologis tentang belajar menjelaskan bahwa struktur otak merupakan hasil interaksi antara pola genetik dengan lingkungan. Dengan demikian, tinjauan neurofisiologik mempertemukan kelompok teori behavioristikdan kelompok teori kognitif. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar tersebut dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri anak dan faktor yang berasal dari lingkungan.

Asesmen adalah suatu proses pengumpulan intormasi tentang anak berkesulitan belajar yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajaran bagi anak tersebut. Asesmen dilakukan untuk lima keperluan, yaitu untuk penyaringan (secreening) pengalihtanganan (referral), klasifikasi (instructional planning), dan pemantauan kemajuan beljar anak (monitoring pupil progress). Untuk memperoleh imformasi asesmen dapat dilakukan melalui wawancara, obnserfasi, pengukuran informal, dan penggunaan tes baku formal. Asesmen memilki kaitan yang erat dengan penyusunan program pendididkan individual .

Program pendidikan individual adalah suatu bentuk pelayanan PLB bagi anak berkesulitan belajar. Program tersebut biasanya dikembangkan oleh seorang guru PLB bagi anak berkesulitan belajar yang pelaksanaannya harus dievaluasi dulu oleh TP3I (Tim Penilai Program Pendidikan Individual). Suatu TP3I umumnya terdiri dari guru khusus bagi nak berkesulitan belajar, guru reguler (guru kelas atau guru bidang studi), kepala sekolah, orangtua, ahli yang berkaitan dengan anak (dokter dan psikolog), dan kalau mungkin juga anak itu sendiri. Suatu PPI (Program Pendidikan Individual) hendaknya memuat lima pernyataan, yaitu pernyataan tentang:
(1) Taraf kemampuan anak saat ini
(2) Tujuan pembelajaran umum dan penjabarannya ke dalam tujuan pembelajaran khusus
(3) Pelayanan khusus yang tersedia bagi anak dan perluasannya untuk mengikuti program reguler
(4) Proyeksi tentang kapan dimulainya kegiatan dan waktu yang digunakan untuk memberikan pelayanan
(5) Prosedur evaluasi dan kriteria keberhasilan program.

Ada lima langkah utama dalam merancang suatu PPI, yaitu (1) membentuk Tim PPI atau TP3I, (2) menilai kekuatan, kelemahan, dan minat anak, (3) mengembangkan tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek, (4) merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan, (5) menentukan metode evaluasi untuk menentukan kemajuan anak.

Ada lima manfaat informasimedis bagi guru, yaitu:
(1) Dapat lebih memahami bahwa belajar merupakan suatu proses neurologis yang terjadi di dalam otak
(2) dapat menyadari bahwa dokter spesialis sering memberikan sumbangan baik pada asesmen maupun pemecahan masalah belajar
(3) dapat menginterprestasikan laporan medis tentang anak dan mendiskusikan temuan-temuannya dengan dokter dan orangtua
(4) dapat memahami bahwa beberapa kesulitan belajar ditemukan karena kemajuan teknologi kedokteran
(5) penemuan-penemuan ilmiah tentang otak manusia dan belajar dapat meningkatkan pemahaman guru tentang hakikat kesulian belajar.

Secara tradisional profesi kedokteran menggunakan terminologi disfungsi minimal otak (minimal brain dysfunction) untuk menunjuk anak-anak berkesulitan belajar. Meskipun demikian, ada pula yang mengusulkan penggunaan terminologi gangguan kekurangan perhatian (attention deficit disorders).

Pediatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan kesehatan anak. Dokter spesialis anak mempunyai peran tidak hanya dalam aspek kesehatan fisik tetapi juga aspek psikososial dari kesejahteraan anak.

Neurologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan penyakit saraf. Dokter spesialis saraf memiliki peran penting dalam melakukan evaluasiperkembangan fungsi otak dan sistem saraf pusat, yang merupakan posisi kunci dalam diagnosis kesulitan belajar.

Karena anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan dalam membaca, dan kesulitan sering terkait dengan kemampuan melihat, maka bantuan dari seorang dokter spesialis mata sering diperlukan. Pemeriksaan penglihatan dilakukan untuk mengetahui ket ketajaman pengelihatan, kekeliruan pembiasan, dan kesulitan binokular.

Otologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan kesehatan pendengaran. Pendengaran merupakan sarana yang sangat penting untuk menguasai bahasa. Karena anak-anak berkesulitan belajar banyak yang mengalami kesulitan dalam bahasa, maka bayak di antara mereka yang memerlukan pemeriksaan kesehatan pendengaran dari seorang dokter spesialis pendengaran.

Kesulitan belajar sering terkait dengan masalah kesehata mental. Cabang ilmu kedoktrean yang terkait dengan kesehatan mental adalah psikiatri. Oleh karena itu, psikiater sering memegang peran kunci dalam diagnosis kesulitan belajar.

Ada sejumlah bentuk terapi hiperaktivitas yang merupakan salah satu karakteristik dari kesulitan belajar. Penggunaan obat banyak dilakukan tetapi juga banyak yang meragukan manfaatnya. Bentuk terapi yang lain yang mencakup pemberian nutrisi yang cukup, pengendalian makan (diet), membatasi penggunaan bahan tambahan makanan, pengendalian kadar gula dalam darah, dan pengunaan modifikasi perilaku.

Pada umumnya manusia mengikuti suatu polaperkembangan yang bersifat umum. Pola perkembangan umum tersebut sangat bermanfaat untuk menyusun program pendidikan atau kurikulum sekolah bagi anak normal. Di samping ada pola perkembangan umum ada pola perkembangan yang bersifat individual, yang berbeda-beda untuk tiap anak. Pola perkembangan individual sangat bermanfaat untuk menyusun program pendidikan individual.

Perkembangan manusia tidak dapat dipercepat. Upaya mempercepat perkembangan dapat menimbulkan masalah belajar. Begitu pula dengan ketiadaan stimulasi yang tepat pada saat suatu fungsi sedang mengalami kematangan, dapat menimbulkan masalah belajar.

Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, kesulitan belajar disebabkan oleh adanya kelambatan kematangan dari suatu fungsi neurologis. Oleh karena itu, kesulitan belajar bersifat sementara sehingga banyak diantara anak-anak berkesulitan belajar yang tidak memperlihatkan gejala-gejala kesulitan belajar setelah mereka remaja atau dewasa.

Ada tahapan-tahapan perkembangan manusia yang relatif sama. Tahapan-tahapan perkembangan yang paling terkait dengan kesulitan belajar adalah tahapan-tahapan perkembangan kognitif. Tahapan-tahapan perkembangan kognitif tersebut menurut piaget mulai dari tahapan sensori motor, praoperasional, konkret-operasional, dan fromal-operasional. Pembelajaran hendaknya disesuakan dengan tahapan-tahapan perkembangan tersebut.

Implikasi penting dari aspek psikologi perkembangan adalah agar sekolah merancana pengalaman belajar yang dapat mempertinggi kemantapan kematangan perkembangan alami. Suatu kesiapan sangat diperlukan dalam mencapai suatu bentuk keterampilan.

Psikologi behavioral memberikan sumbangan penting dalam pengajaran anak berkesulitan belajar. Ada dua sumbangan penting dari aspek psikologi behavioral, yaitu dalam melakukan analisis perilaku dalam pembelajaran langsung sedangkan pemahaman tentang tahapan-tahapan belajar memungkinkan guru memberikan pelajaran yang tepat bagi anak berkesulitan belajar. Ada tujuh langkah pembelajaran langsung yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu:
(1) Merumuskan tujuan
(2) Melakukan analisis tugas
(3) Menyusun tugas-tugas dalam urutan yang logis
(4) Menentukan tugas-tugas yang belum dikuasai anak
(5) Mengajarkan tugas-tugas yang belum dikuasai
(6) Mengajarkan hanya satu tugas dalam waktu tertentu
(7) Melakukan evaluasi untuk menentukan keefektifan program pembelajaran.

Tahapan-tahapan belajar ada empat, yaitu (1) perolehan, (2) kecakapan, (3) pemeliharaan, dan (4) generalisasi. Implikasi aspek psikologi behavioral bagi kesulitan belajar adalah (1) terciptanya pembelajaran langsung yang efektif, (2) perlunya menggabungkan pembelajaran langsung dengan pendekatan lainuntuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, dan perlunya mempertimbangkan tahapan-tahapan perkembangan dalam merancang pembelajaran.

Ada tiga macam sistem penempatan pemberian pelayanan pendidikan luar biasa bagi anak berkesulitan belajar yang paling banyak dipilih, yaitu sistem pemberian pelayanan dalam bentuk kelas khusus, ruang sumber, dan kelas reguler. Tiap sistem penempatan memiliki kelebihan sekaligus juga kekurangan.

Ada berbagai peranan guru bagi anak berkesulitan belajar, yaitu:
(1) Menyusun rancangan program identifikas, asesmen, dan pembelajaran anak berkesulitan belajar
(2) Berpartisipasi dalam penjaringan, asesmen, dan evaluasi
(3) Berkonsultasi dengan para ahli yang terkait menginterpretasikan laporan mereka
(4) Melaksanakan tes, baik tes formal maupun tes informal
(5) Berpartisipasi dalam penyusunan progeam pendidikan individual (PPI)
(6) Mengimplementasikan PPI
(7) Menyelenggarakan pertemuan dan wawancara dengan orang tua
(8) Bekerja sama dengan guru reguler untuk memahami anak dan menyediakan pembelajaran yang efektif
(9) membantu anak dalam mengembangkan diri, memperoleh harapan untuk berhasil, dan keyakinan terhadap kesanggupan mengatasi kesulitan belajar anak.

Guru bagi anak berkesulitan belajar dituntut untuk memilki dua jenis kompetisi, yaitu kompetisi teknis dan kompetisi konsultasi kolaboratif. Kompetisis teknis mencakup (1) memahami berbagai teori tentang kesulitan belajar;(2) memahami berbagai tes yang terkait dengan kesulitan belajar; (3) terampil dalam melaksanakan asesmen dan evaluasi; dan (4) terampil dalam mengajarkan bahasa ujaran, bahasa tulis, membaca, matematika, mengelola perilaku, dan terampil memberikan pelajaran prevokasional dan vokasional. Kompetisi konsultasi kolaboratif mencakup kemampuan untuk menjalin hubungan kerjasama dengan semua irang yang terlibat dalam upaya memberikan bantuan kepada anak berkesulitan belajar adalah melalui (1) pendidikan inservice, (2) demonstrasi, (3) studi kasus, (4) pengalaman klinis, (5) mengundang pembicara tamu dan menghadiri seminar, dan (6) menyediakan laporan berkala atau jurnal tentang pendidikan anak berkesulitan belajar.

Agar dapat menjalin hubungan baik dengan orang tua, guru perlu mengetaui sikap orang tua kepada anak. Ada tiga macam sikap orang tua terhadap anaknya yang berkesulitan belajar, yait:
(1) Menolak atau tidak dapa menerima kenyataan
(2) Kompensasi yang berlebihan
(3) Menerima anak sebagaimana adanya.

Hanya orang tua yang bersikap menerima anak sebagaiman adanya yang dapat diajak bekerjasama untuk membantu anak memecahkan masalah kesulitan belajar. Untuk sampai pada sikap manerima anak sebagaimana adanya ada beberapa tahapan penyesuaian, yaitu:
(1) Menyadari adanya masalah
(2) Mengenal masalah
(3) Mencari penyebab
(4) Mencari penyembuhan
(5) Menerima anak sebagaimana adanya.

Ada dua pendekatan dalam program bimbingan bagi orang tua, yaitu pendekatan informasional dan pendekatan psikoterapik. Program latihan bagi orang tua juga memiliki dua macam pendekatan, yaitu pendekatan komunikasi dan pendekatan keterlibatan. Pendekatan komunikasi menekankan pada penyelengaraaan komunikasi langsung antara orang tua dan anak; sedangkan pendekatan keterlibatan menekankan pada upaya memecahkan masalah praktis melalui kerjasama kelompok.

Salah satu bentuk penanggulangan masalah belajar adalah dengan menyelenggarakan pendidikan yang interatif. Pendidikan integratif adalah pendidikan yang berupaya:
(1) Mengintegrasikan anak luar biasa dengan anak normal dalam satu kelas atau sekolah
(2) Mengintegrasikan pelayanan PLB dengan pendidikan pada umumnya
(3) Mengintegraskan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi, fisik, dan intuisi
(4) Mengintegrasikan manusia sebagai makhluk individual yang sekaligus juga makhluk sosial
(5) Mengitegrasikan antara apa yang dipelajari oleh anak disekolah dengan tugas mereka dimasa depan
(6) Mengintegrasikan antara pandangan hidup (pancasila), agama, ilmu, dan seni.

Pendidikan yang mengintegrasikan hakikat manusia sebagai makhluk individual yang sekaligus juga makhluk sosial adalah pendidikan yang menciptakan interaksi pembelajaran individualistik, koperatif, dan kompetif yang selektif. Ada empat alasan perlunya penyelenggaraan pendidikan interagtif, yaitu (1) alasan keilmuan, (2) alasan filosofis, (3) alasan ekonomi, dan (4) fleksibilitas kurikulum LPTK.

Ada empat elemen dasar dalam pembelajaran koperatif, yaitu (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan menjalin hubungan interpersonal. Ada perbedaan antara kelompok belajar koperarif dengan kelompok belajar tradisional; dan ada perbedaan pula antara peranan antara peranan guru dalam pembelajaran koperatif dengan peranan guru dalam pembelajaran tradisional.

Guru harus hati-hati dalam menciptakan suatu bentuk interaksi komperatif. Interaksi komperatif antarindividu atau antarkelompok yang tidak memiliki kekuatan seimbang dapat menimbulkan kebosanan bagi yang kuat. Ada empat bentuk pembelajaran kompetitif yang efektif untuk mencapai tujuan belajar, yaitu (1) kompetisi antarindividu yang berkemampuan seimbang, (2) kompetisi antarkelompok yang berkekuatan sama, (3) kompetisi dengan nilai minimum, dan (4) kompetisi dengan diri sendiri.

Pembelajaran individualistik dapat dalam bentuk penyelenggaraan program pendidikan yang diindividualkan dan dapat pula dalam bentuk modifikasi perilaku. Pembelajaran individualistik melalui modifikasi perilaku bertolak dari pendekatan behavioral yang menerapkan prinsip-prinsip operant conditioning. Ada empat karakteristik utama pendekatan behavioral, yaitu:
(1) Terfokus pada perilaku yang dapat diamati
(2) Asesmen yang cermat terhadap perilaku yang akan diubah dikembangkan
(3) Evakuasi terhadap pengaruh program pengubahan perilaku
(4) Menekankan pada perubahan perilaku sosial yang bermakna. Ada tujuh prinsip operant conditioning yang mendasari strategi modifikasi perilaku, yaitu (1) reinforcement, (2) punishment,(3) extinction, (4) shaping and chaining, (5) prompting and fading, (6) discrimination and stimulus control, dan (7) generalization.

Bab ini membahas berbagai gangguan perkembangan motorik dan persepsi pada anak berkesulitan belajar dan berbagaistrategi pengembangannya.

Beberapa teori perkembangan motorik telah mempengaruhi bidang kajian kesulitan belajar. Tiap teori diturunkan dari suatu disiplin ilmu tertentu.

Berdasarkan perspektif pendidikan jasmani, cratty menekankan pentingnya latihan gerak dan permainan sebagai sarana untuk memecahkan masalah kesulitan belajar.

Berdasarkan psikologi perkembangan, kephart mengembangkan teori perseptual-motor, yang menjadi dasar pemikiran tentang pengembangan motorik bagi anak berkesulitan belajar. Mewakili disiplin terapi okupasional, ayres mengembangkan teori belajar sensorimotor dalam kaitannya dengan integrasi neurofisiologis.

Persepsi menunjuk pada kesadaran informasi sensoris atau kemampuan intelek untuk menyarikan makna dari stimulasi sensoris.

Konsep modalitas-perseptual mengemukakan bahwa tiap anak memiliki kesukaan modalitas perseptual untuk belajar dan bahwa gaya belajar individual dapat disesuaikan dengan metode pengajaran.

Bangunan pengertian tentang persepsi yang memiliki implikasi bagi kesulitan belajar mencakup konsep perseptual-modalitas, sistem perseptual bermuatan lebih, persepsi keseluruhan dan bagian , persepsi visual, persepsi auditoris, persepsi taktil dan kinestik (persepsi heptik), dan integrasi informasi berbagai sistem perseptual.

Persepsi adalah keterampilan yang diperoleh dari belajar. Berbaga pengaruh lngkungan, termasuk prosedur pembelajaran, dapat memodofokasokan dan memperkuat belajar perseptual. Pada bagian akhir dari bab ini dikemukakan berbagai strategi pengembangan motorik dan persepsi.

Kognisi adalah suatu studi tentang berpikir. Ada dua dimensi gaya konitif, (1) tidak terikat dan terikat pada lingkungan (field indepedence) akan memperhatikan detil-detil esensial dari suatu tugas dan mengabaikan detail-detail yang tidak esensial. Anak yang menyelesaikan tugas secara sama baik detail-detail esensial maupun yang tidak esensial atau yang menyelesaikan tugas lebih pada detail-detail yang tidak esensial daripada yang esensial disebut memiliki gaya kognitif yang terikat pada lingkungan (field dependence). Anak-anak berkesulitan belajar umumnya tergolong anak yang memiliki gaya kognitif yang terikat pada lngkungan.

Anak juga dapat diklasifikasikan ke dalam gaya kognitif reflektifitas-impulsivitas berdasarkan apakah mereka berpikir sejenak atau tidak mereflek sebelum membuat keputusan ketika mencoba memecahkan masalah sulit. Anak-anak berkesulitan belajar umumnya memiliki gaya kognitif yang lebih impulsif daripada anak-anak yang tidak berkesulitan belajar.

Anak yang field dependence dapat dilatih menjadi field independence, begitu pula dengan anak yang impulsif dapat dilatih menjadi reflektif. Meskipun demikian, masih ada kecenderungan anak berkesulitan belajar untuk field dependence dan impulsif d dalam kelas.

Para akademik banyak terkait dengan kemampuan memori dan keterampilan metakognitif. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam memecahkan problema memori karena mereka memiliki kekurangan dalam menemukan strategi memori yang tepat. Oleh karena itu, anak berkesulitan belajar perlu diajar secara langsung dalam menghadapi problema memori. Keterampilan metakognitif merupakan pemahaman proses kognisinya sendiridan kemampuan memantau strategi yang digunakan saat mempelajari suatu tugas. Anak-anak berkesulitan belajar umumnya memiliki kekurangan dalam keterampilan metamemori, metalistening, dan metacomprehension. Oleh karena itu, anak berkesulitan belajar perlu memperoleh latihan untuk mengembangkan keterampilan metamemori dan metakognitif.

Bahasa merupakan salah satu kemampuan manusia terpenting yang menjadikan mereka unggul ats makhluk-makhluk lain. Bahasa merupakan kode atau sistem konvensional yang disepakati secara sosial untuk menyajikan berbagai pengertian melalui simbol-simbol arbitrer yang tersusun menurut aturan yang telah ditetapkan.

Wicara adalah bahasa verbal yang memiliki komkponen artikulasi, suara, dan kelancaran. Adanya gangguan pada salah satu atau lebih dari komponana tersebut dapat menimbulkan kesulitan wicara. Orang yang memiliki kesulitan wicara tidak selalu memiliki kesulitan bahasa.

Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu fonem, morfem, sintaksis, semantik, prosodi , dan pragmatik. Adanya gangguan pada salah satu atau lebih dari komponan tersebut dapat menyebabkan kesulitan belajar bahasa,

Perkembangan bahasa mancakup isi, bentuk, dan penggunaan bahasa. Tanda-tanda awal bahasa tampak pada kemampuan bayi mengeluarkan bunyi. Pada usia sekitar dua tahun anak mulai bicara satu kata, dan selanjutnya secara berangsur-ansur berkembang menjadi kalimat yang kompleks. Ada suatu rentangan petkembangan bahasa normal, tetapi anak-anak berkesulitan belajar umumnya memiliki perkembanagan bahasa yang lebih lambat daripada anak normal.

Ada berbagai penyebab kesulitan belajar bahasa, yaitu kekurangan kognitif, kekurangan memori, kekurangan kemampuan emproduksi bahasa. Asesmen terhadap kesulitan belajar bahasa dapat dilakukan dengan instrumen formal maupun informal.

Ada beberapa pendekatan dalam remediasi kesulitan belajar bahasa, yaitu pendekatan proses, analisis tugas, behavioral, interaktif-interpersonal, dan sistem lingkungan total atau holistik.

Pada awal masuk SD anak harus belajar membaca dan kesulitan belajar membaca hendaknya segera diatasi agar anak dapat mempelajari berbagai bidang studi melalui membaca. Membaca bukan hanya mengu capkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya.
Mampersiapkan anak untuk membaca harus dimulai sejak bayi dilahirkan. Ada liam tahapan perkembangan membaca, yaitu:
(1) Kesiapan membaca
(2) Membaca permulaan
(3) Keterampilan membaca cepat
(4) Membaca luas
(5) Membaca yang sesungguhnya.

Definisi kesulitan belajar membaca atau disleksia sangat bervariasi tetapi semua menunjuk kemungkinan adanya gangguan pada fungsi otak. Ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yaitu dengan yang berkenaan dengan (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahamaan, dan (4) adanya gejala–gejala serbaneka.

Asesmen kesulitan belajar membaca dapat dilakaukan melalui intrumen formal dan informal. Guru dapat menggunakan instrumen informal sebagai landasan dalam memberikan pengajaran remedial. Asesmen informal dapat digunakan untuk mengindentifikasi adanya berbagai kesalahaan dalam membaca lisan dan membaca pemahaman.

Ada dua kelompok metode pengajaran membaca, yaitu untuk anak pada umumnya dan untuk remedial. Metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya antara lain berupa metode:
(1) Membaca dasar
(2) Fonik
(3) Linguistik
(4) SAS
(5) Alfabetik
(6) Pengalaman bahasa.

Metode pengajaran remedial antara lain metode (1) Fernald, (2) Gilingham, dan (3) analisis Glass.

Buku ini membahas kesulitan bejar menulis yang mencakup menulis dengan tangan atau menulis permulaan, mengeja, dan menulis ekspresif. Menulis adalah salah satu komponen sistem komunikasi.

Ada berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan menulis dengan tangan, yaitu:
(1) Motorik
(2) Perilaku
(3) Persepsi
(4) Memori
(5) Kemampuan melaksanakan cross modal
(6) Penggunaan tangan dominan,
(7) Kemampuan memahami instruksi.

Kesulitan mengeja dapat terjadi jika anak mengalami gangguan memori dan gangguan persepsi, khususnya memori dan persepsi visual dan auditori.

Agar dapat menulis ekspresif, seseorang harus memiliki kemampuan menggunakan bahasa ujaran, membaca, mengeja, menulis dengan tangan, dan memahami berbagai aturan yang berlaju bagi sesuatu jenis penulisan.

Assesmen kemampuan menulis dapat dilakukan dengan instrumen formal atau informal.

Buku ini juga membahas berbagai strategi pengajaran menulis dengan tangan, mengeja, dan menulis ekspresif.
Matematika adalah bahasa simboils untuk mengekspresikan hubungan-hubugan kuantitatif dan keruangan, yang memudahkan manusia berpikir dalam emecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

Hasil belajar matemarika ada dua macam, perhitungan matematika dan penalaran matematika. Ada tiga elemen bidang studu matematika:
(1) Konsep
(2) keterampilan
(3) Pemecahan masalah.

Ada empat pendekatan yang paling berpengaruh dalam pengajaran matematimka:
(1) Urutan belajar yang bersifat perkembangan
(3) Strategi belajar
(4) Pemecahan masalah

Kesulitan belajar matematika sering disebut juga disleksia, dan kesulitan belajar matematika yang berat disebut aleksia. Ada beberapa karakteristik anak berkesulitasn belajar matematika, (1) gangguan dalam memahami hubungan keruangan, (2) abnormalitas persepsi visual, (3) gangguan asosiasi visual-motor, (4) perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6) gangguan penghayatan tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8) sekor PIQ yang jauh lebih rendal, daripada sekor VIQ.

Ada beberapa kekeliruan umum yang dilakukan oleh anak berkesulitan balajar matematika, yaitu dalam memahami simbol, nilai tempat, perhitungan, penggunaan proses yang keliru, dan tulisan yang tidak dapat dibaca.

Asesmen kesulitan belajar matematika dapat dilakukan secara informaldan/atau secara formal. Instrumen asesmen formal memerlukan pengujian validitas dan reliabilitas.

Ada beberapa prinsip pengajaran remedial matematika, yaitu:
(1) Perlunya menyiapkan anak untuk belajar matematika
(2) Mulai dari yang konkret ke yang abstrak
(3) Kesempatan untuk berlatih dan mengulang yang cukup
(4) Generalisasi ke berbagai generasisai baru
(5) Bertolak dari kekuatan dan kelemahan siswa
(6) Perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep dan keterampilan matematika
(7) Penyediaan program matematika yang seimbang
(8) Penggunaan kalkulator untuk menanamkan penalaran matematika.

Usia prasekolah merupakan masa yang sangat penting dari perkembangan anak. Identifikasi dan intervensi dini terhadap anak-anak prasekolah yang berisiko berkesulitan belajar dapat mengurangi dan bahkan mencegah terjadinya kegagalan belajar disekolah. Ada tiga alasan untuk menyatakan seorang nak beresiko berkesulitan belajar, (1) hasil pemeriksaan medis, (2) risiko biologis, dan (3) risiko lingkungan.

Identifikasi dini berkenaan dengan upaya menemukan anak-anak prasekolah yang disuga berisiko berkesulitan belajar, dan intervensi dini berkenaan dengan upaya memberikan perlakuan agar kesulitan belajar dapat dicegah atau ditanggulangi. Ada enam langkah yang sebaiknya diikuti dalam melaksanakan identifikasi dan intervensi dini, (1) menjalin hubungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat, (2) melaksanakan identifikasi, (3) menegakkan diagnosis, (4) merancang program intervensi, (5) melaksanakn intervensi, dan (6) mengevaluasi program intervensi.

Identifikasi dan intervensi dini tidak hanya berpengaruh terhadap hasil belajar anak di sekolah kelak tetapi juga berpengaruh hingga taraf sel otak. Pemberian stimulasi yang tepat dari lingkungan dapat merangsang sel glia untuk memproduksi myelin yang memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas sel otak yang pada gilirannya juga meningkatkan kualitas proses belajar.

Ada empat pilihan sistem pelayanan intervensi dini, (1) di rumah, (2) terintegrasi dengan TK, (3) di pusat pelayanan identifikasi dan intervensi dini, dan (4) kombinasi dari berbagai jenis pilihan.

Ada empat macam model program intervensi dini:
(1) Program pengayaan
(2) Program pengajaran langsung
(3) Program yang menekankan pada kognitif
(4) Program kombinasi.

Isi program hendaknya mencakup aktivitas:
(1) Keterampilan menolong diri sendiri dan konsep diri
(2) Motorik kasar
(3) Motorik halus
(4) Komunikasi
(5) Visual
(6) Auditoris
(7) Kognitif
(8) Sosial

Dari buku ini mengungkapkan aspek-aspek yang terkait deengan kajian kesulitan belajar, yakni gambaran umum tentang kesulitan belajar, diantaranya mencakup aspek medis dan aspek psokologis kesulitan belajar. Juga tentang sistem pelayanan peningkatan prestasi belajar, kesulitan belajar khusus, serta identifikasi dan inversi dini.

Buku ini tentu bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya program studi pendidikan guru pendidikan luar biasa, pendidik dan praktisi pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar